Republika, 12 Juni 2008
Profil: Agus Syabaruddin
Ketua Indonesia Islamic Global Market Association
Indonesia saat ini menjadi salah satu negara tujuan investasi syariah dari berbagai investor Timur Tengah. Selain menjadi negara berpopulasi Muslim terbesar di dunia, berbagai proyek investasi di negara ini diyakini mampu menawarkan return investasi yang lebih kompetitif dibandingkan berbagai negara lain. (more…)
Hari Selasa (17/6), menjadi tonggak sejarah baru bagi perkembangan bank syariah di Indonesia. Setelah enam tahhun lamanya menunggu, rapat paripurna DPR RI akhirnya sepakat mensahkan kelahiran Undang-Undang Perbankan Syariah. (more…)
Selain terlambat, penerbitan sukuk juga dianggap tidak begitu signifikan untuk menutup defisit APBN 2008. Namun, daripada berutang lagi, menerbitkan sukuk masih lebih baik.
Bulan April sampai Mei 2008 adalah momen-momen penting untuk sukuk negara Indonesia. Pada 29 April 2008, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mengesahkan RUU SBSN. Pada 29 Mei 2008, Departemen Keuangan (Depkeu) mengumumkan jaminan (underlying asset) sukuk berjenis ijarah naik dari Rp18,8 Triliun menjadi Rp1.600 Triliun. Kenaikan signifikan ini dipicu Laporan Keuangan Pemerintah Pusat atau LKPP 2007 yang menyatakan nilai kekayaan negara adalah Rp .600,21 Triliun, sedangkan utangnya Rp 1.430,96 Triliun. (more…)
Jakarta (01/7/08) | Data Bank Indonesia (BI) mencatat penempatan dana bank di Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) pada April 2008 sebesar Rp2,49 triliun. Atau, menurun Rp 670 miliar bila dibandingkan periode sama tahun lalu, ketika masih bernama Sertifikat Wadiah Bank Indonesia (SWBI), yang mencapai Rp3,17 triliun. Data BI juga memperlihatkan portofolio SBIS dibandingkan dengan aset perbankan syariah mengalami penurunan sebesar 4,93% menjadi 6,23% per April 2008. Ketua Umum Indonesia Islamic Global Market Association (IIGMA) Agus Sabaruddin mengatakan penurunan penempatan dana bank syariah pada bank sentral karena pembiayaan industri tersebut mengalami peningkatan. (more…)
Setelah berprofesi lebih dari 10 tahun menjadi seorang perencana keuangan dan penasehat kekayaan (Financial Planner & Financial Advisor) baik di Amerika Serikat maupun Indonesia, Aidil Akbar Madjid, MBA, CFE®, CFP®, RFC® yang saat ini dikenal dengan sebutan sang Wealth Planner™ dibantu oleh tim dari IARFC Indonesia tergerak untuk memulai suatu perjalanan dalam menggali ilmu perencanaan keuangan secara Islami yang kemudian dikenal dengan Perencana Keuangan Islami (Islamic Financial Planning). (more…)
![]() |
![]() |
![]() |
| Ditulis oleh M Bachrul Ilmi | |
| Friday, 25 April 2008 | |
| Dalam beberapa pekan terakhir, harga minyak dunia terus meningkat tanpa bisa tertahan. Bahkan, harga minyak dunia per barel saat ini telah menembus level 115 dolar AS. Hal ini tentu saja menyebabkan negara produsen minyak yang didominasi negara-negara Teluk menerima untung luar biasa atau akrab dikenal mengalami overlikuiditas. Berbagai analis mengestimasi dana overlikuiditas tersebut mencapai lebih dari 500 miliar dolar AS. Sungguh dana yang luar biasa banyak. Berbagai investor Arab kemudian memutuskan untuk menginvestasikan dana overlikuiditas tersebut ke luar wilayah Timur Tengah. Hal itu agar dana tersebut dapat dikelola lebih baik dan menguntungkan. (more…) |
![]() |
![]() |
![]() |
| Ditulis oleh Republika | |
| Tuesday, 22 April 2008 | |
| JAKARTA — Pemerintah menyatakan berdasarkan hasil inventarisasi, aset barang milik negara (BMN) yang bisa menjadi underlying asset penerbitan sukuk mencapai Rp 18,8 triliun. Karena itu, sukuk negara yang diterbitkan tahun ini bisa mencapai jumlah yang sama. Meski demikian, pemerintah hanya akan menerbitkan sukuk sesuai kebutuhan. (more…) |
JAKARTA — Indonesia Islamic Global Market Association (IIGMA) mendorong perbankan syariah mencari sumber dana alternatif untuk mengatasi problem mengetatnya likuiditas di pasar. Hal itu dilakukan dengan menjaring dana overlikuiditas Timur Tengah yang berorientasi penguatan bisnis perbankan syariah di Indonesia dan bukan penyertaan ekuitas (equity participation). Untuk merealisasikannya, berbagai bank syariah bisa mengembangkan instrumen penjaring dana pool of fund atau melalui kerja sama bilateral. ”Kondisi saat ini memang menjadi tantangan. Untuk mengatasi problem mengetatnya likuiditas, saya kira bank syariah perlu berinovasi mencari sumber dana alternatif dari luar,” kata Ketua IIGMA Agus Syabaruddin kepada Republika, Senin, (15/9).Saat ini, menurut Agus, problem mengetatnya likuiditas tidak hanya dirasakan bank konvensional, tapi juga bank syariah. Hal itu ditunjukkan oleh beberapa indikator. Salah satunya adalah penempatan dana pemerintah di satu tempat, Bank Indonesia (BI). Padahal, sebelumnya dana itu disimpan di berbagai bank. Karena dalam jumlah besar, penempatan itu jelas memberikan dampak pada mengetatnya likuiditas…
http://www.republika.co.id/launcher/view/mid/22/kat/38/news_id/3430
Jumat, 04/04/2008
JAKARTA: Mayoritas unit usaha syariah belum bisa mengikuti lelang Serifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS), karena masih terhampat ketentuan rasio penyaluran pembiayaan dan jaringan interkoneksi dengan bank sentral.
Berdasarkan data Islamic Global Market Association(IIGMA) dari 28 bank syariah dan unit usaha syariah yang beroperasi, hanya 13 bank bank yang terlibat –Bank Indonesia menyebut 12 bank peserta. (more…)
| Posted : Selasa, 01-07-2008 | 13:10:52 WIB |
| Solusi likuiditas bank syariah yang lebih kompetitif perlu dikembangkan agar industri perbankan syariah bisa berkembang lebih cepat. Hal tersebut disampaikan ketua Indonesia Islamic Global Market Association (IIGMA) Agus Syabaruddin akhir pekan lalu. Menurutnya, saat ini, asosiasi pelaku pasar keuangan dan modal syariah tengah mengkaji pengembangan solusi penanganan likuiditas bank syariah yang dikenal dengan pooling of fund. ”Saat ini, kami tengah mengkaji pengembangan pooling fund untuk mengatasi permasalahan likuiditas bank syariah,” ujarnya. (more…) |


